Yulizar menjelaskan bahwa Babel memiliki beragam bahan baku minyak atsiri, salah satunya adalah tumbuhan sapu-sapu yang tumbuh subur di sekitar pantai dan bekas lahan tambang timah. Tumbuhan sapu-sapu ini dapat diolah melalui proses penyulingan menjadi minyak atsiri.
“Minyak atsiri sapu-sapu dapat dihasilkan dari tumbuhan sapu-sapu ini. Beberapa orang telah mencobanya dan hasil penjualan pun menjanjikan. Oleh karena itu, melalui pelatihan ini, kami mendorong pelaku UMKM untuk memproduksi minyak atsiri sapu-sapu dengan skala yang lebih besar dan kualitas yang lebih tinggi,” tambahnya.
Minyak atsiri sapu-sapu, atau dengan nama ilmiah baeckea frutescens, memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena digunakan dalam industri kosmetik, parfum, dan obat-obatan.
Hasil penyulingan minyak atsiri sapu-sapu ini sudah memiliki pasar yang siap menerima produknya. Bahkan, ada perusahaan di Yogyakarta yang bersedia menjadi pembeli produk minyak atsiri sapu-sapu dari Babel. Oleh karena itu, pelaku UMKM tidak perlu khawatir dalam mengembangkan bisnis minyak atsiri sapu-sapu karena potensi pasarnya sudah ada.











