“Generasi muda harus menyadari bahwa penerimaan terhadap perbedaan adalah kunci dalam berinteraksi sosial, berbangsa, dan bernegara,” katanya.
Rycko menilai bahwa titik lemah Indonesia adalah jika generasi muda terpecah belah. Oleh karena itu, ia memberikan pesan agar generasi muda terus memelihara persatuan dan kesatuan.
“Jaga persatuan dan kesatuan, jaga negeri ini dengan menjaga diri kita masing-masing. Jangan biarkan kita terpecah belah,” pesannya disampaikan Rycko kepada santri di Pesantren Terpadu Qoshrul Muhajirin dan mahasiswa Universitas Siliwangi di Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat.
Sebagai ilustrasi kekuatan persatuan dan kesatuan, Rycko merujuk pada Sumpah Pemuda 1928. Ia mengingatkan bahwa pada saat itu, seluruh pemuda bersatu untuk membangun persatuan dan kesatuan yang memberikan dampak besar dalam perjuangan melawan penjajah.
“Ketika kita bersatu, dengan berbagai perbedaan kita bisa menjadi satu, dan negara ini menjadi kuat. Indonesia eksis karena ada persatuan dan kesatuan,” paparnya.

















