“Kota kreatif adalah strategi baru untuk perencanaan kota, tentu dilatarbelakangi oleh era globalisasi ekonomi. Kota harus mampu menghasilkan pendapatan sendiri dengan kegiatan kreatif, sehingga membuat kota menjadi lebih kreatif,” ungkap Lusje dalam sambutannya.
Lusje menambahkan bahwa kegiatan semacam ini diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menciptakan iklim bisnis yang positif, mengembangkan ekonomi berbasis sumber daya terbarukan, dan membangun citra serta identitas bangsa.
Dalam konteks kerajinan, Lusje berharap adanya kolaborasi yang inovatif. Sebagai contoh, batik Kota Pangkalpinang dapat berkolaborasi dengan daerah lain, dan menambahkan sentuhan khas Kota Pangkalpinang, seperti halnya batik Nol Kilometer. Ia juga menekankan bahwa produsen seharusnya tidak hanya memproduksi hal-hal kecil, melainkan dapat melakukan modifikasi dan penambahan nilai untuk menarik minat pasar.
“Misalnya, pada wadah tisu, kita bisa memberikan sentuhan khas Kota Pangkalpinang, seperti menambahkan sedikit timah agar terlihat lebih unik,” ungkap Lusje.

















