Emotional eating, juga dikenal sebagai stress eating, adalah cara di mana beberapa orang mengatasi stres dengan memanjakan diri pada makanan. Meskipun stres merupakan pengalaman umum bagi semua orang, setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengatasi stres. Emotional eating seringkali digunakan sebagai cara untuk sementara melupakan masalah. Namun, hal ini dapat menyebabkan kebiasaan makan yang tidak sehat bahkan kecanduan makan. Namun, apa psikologi di balik stress eating, dan bagaimana hal tersebut terkait dengan kesehatan mental kita?

Dari perspektif neuropsikologis, ketidakseimbangan zat kimia dalam otak terlibat dalam stress eating. Serotonin adalah neurotransmitter yang terkait dengan suasana hati, agresi, gairah, tidur, memori, pembelajaran, regulasi suhu tubuh, persepsi rasa sakit, pernapasan, dan perilaku sosial. Tingkat serotonin mempengaruhi kepuasan emosional dan perasaan kenyang setelah makan. Rendahnya tingkat serotonin dapat menyebabkan depresi dan keinginan makan yang berlebihan, terutama makanan manis dan berkarbohidrat. Makan menjadi cara untuk memuaskan ketidaknyamanan emosional yang disebabkan oleh rendahnya tingkat serotonin.

















