Regev mengakui bahwa pemerintah Israel membuat kesalahan dalam mencatat jumlah korban, yang awalnya diperkirakan 1.400, tetapi kemudian dikoreksi menjadi 1.200. Dia menyebut jenazah-jenazah yang awalnya dianggap warga sebagai jenazah terbakar ternyata adalah pejuang Hamas yang disebutnya sebagai “teroris”.
Kontroversi ini menyoroti ketidakpastian dalam mendapatkan informasi akurat dalam konflik bersenjata yang terus berlanjut di Gaza, di mana interpretasi data dan naratif menjadi subjek sengketa antara pihak yang terlibat.
















